C2565 Lepaskan Bab 2565 Lepaskan
Emery mendapati dirinya dalam wujud jiwanya, melayang tanpa bobot, tanpa tubuh dan terlepas dari diri fisiknya. Sosok Soltz mulai berubah. Wujud sang grand magus mulai menua dengan cepat saat ia kembali ke wujud aslinya.
Soltz, yang kini tak berdaya, tak mampu lagi melawan. Tubuhnya gemetar di bawah kendali keempat ahli yang berdiri di atasnya. “Maafkan aku, Pak Tua… kita gagal…” gumam Emery pada dirinya sendiri. Kata-katanya tidak ditujukan kepada siapa pun secara khusus, melainkan pada situasi yang telah terjadi. Penjaga Bulan tampaknya memahami pikiran Emery. “Jangan khawatir,” katanya lembut, suaranya menenangkan. “Kami tidak akan menyakitinya.”
Dia berhenti sejenak sebelum melodi lembut lagunya kembali terdengar di udara, menjalin ritme yang tenang, sebelum dia menambahkan, “Namun, benda itu harus tetap di sini.”
Hati Emery mencekam saat melihat asap hitam mengepul keluar dari tubuh Soltz, berputar membentuk wujud yang mengancam. Gumpalan primordial, makhluk yang sudah lama tidak dilihatnya, muncul di udara di hadapannya. Gumpalan itu tampak terjebak, berjuang untuk melepaskan diri dari sihir yang menahannya. Ia muncul dan menghilang, berkelap-kelip setiap kali gagal mencoba melarikan diri, tetapi ia terikat oleh formasi yang sama yang menjebak Soltz.
Pemandangan itu meresahkan. Hubungan Emery dengan Gerbang Khaos adalah penyelamat hidupnya, satu-satunya cara untuk kembali ke tubuh utamanya.
Pikirannya dipenuhi kepanikan saat ia secara naluriah mencoba mengakses gerbang tersebut.
Dia harus kembali ke wujud aslinya dan mencari cara lain untuk kembali dan menyelamatkan putrinya.
Namun, dia tidak merasakan apa pun.
Tidak ada pusat penghubung. Tidak ada gerbang.
Tidak ada hubungan sama sekali. Tidak ada apa pun. Seolah-olah esensi Khaos telah terputus darinya. Gelombang kecemasan yang dingin menyelimutinya, dan pikirannya berpacu.
Suaranya bergetar saat ia menoleh ke arah penjaga dengan penuh kekhawatiran. “Apa yang akan kau lakukan dengannya?” tanyanya dengan nada menuntut.
Ekspresi wajah penjaga perempuan itu sulit dibaca saat ia bertatap muka dengan pria itu. “Ini bukan urusanmu,” jawabnya lembut. “Kau sebaiknya maju. Ibu Pertiwi ingin berbicara denganmu.”
Kata-kata itu menyakitkan, tetapi Emery tidak punya banyak pilihan. Salah satu dari tiga prajurit peri—sosok tinggi dengan tanduk rusa menghiasi kepalanya—melangkah maju dan memberi isyarat agar Emery mengikutinya. Sikap prajurit itu telah berubah sepenuhnya, tidak lagi waspada atau curiga. Sebaliknya, Emery diperlakukan sebagai tamu kehormatan.
Mereka bergerak menembus hutan yang luas dan mistis, setiap langkah membawanya semakin dalam ke dunia yang sama sekali berbeda. Itu tidak seperti apa pun yang pernah dialami Emery. Udara terasa pekat dengan sihir, dan pepohonan di sekitarnya tampak berdenyut dengan kehidupan.
Bunga-bunga bioluminesen berdenyut dalam kegelapan, memancarkan rona biru, ungu, dan perak yang berubah-ubah di atas batu-batu berlumut di bawah kakinya. Sulur-sulur, yang dihidupkan oleh kekuatan tak terlihat, meliuk dan berputar dengan riang di udara. Itu adalah tempat yang ada di luar alam biasa, ruang yang dipenuhi sihir kuno.
Saat mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yang berkelok-kelok, Emery melihat sebuah desa di depan, terletak di jantung hutan ajaib. Desa itu mengingatkannya pada desa-desa peri di kampung halamannya, tetapi tempat ini tampak lebih tua, lebih menyatu dengan jalinan alam itu sendiri.
Desa itu dipenuhi aktivitas, tetapi sosok-sosok itulah yang menarik perhatiannya. Di sana, berdiri tegak dan gagah, seorang pria berambut pirang keemasan, tatapannya tak tergoyahkan dan dipenuhi aura otoritas yang tenang. Di sampingnya ada seorang gadis yang kehadirannya tampak familiar bagi Emery, Kaelyn Silverleaf.
Ekspresi Kaelyn sulit ditebak saat dia mendekatinya. “Aku berharap kau datang ke sini dalam keadaan yang berbeda,” katanya lembut, suaranya dipenuhi sesuatu yang menyerupai penyesalan.
Lalu, ia memperkenalkan pria di sampingnya sebagai Penjaga Matahari, salah satu dari tiga makhluk tertinggi yang bertugas sebagai penjaga planet Peri. Kehadirannya berwibawa, namun tatapannya tidak kejam.
“Sebaiknya kau jangan coba-coba macam-macam,” katanya dengan nada mengintimidasi.
Namun, perhatian Emery tidak terfokus pada mereka. Matanya melirik ke sekeliling, mencari seseorang dengan putus asa. Saat itulah dia melihatnya—berlari ke arahnya melewati desa, wajahnya dipenuhi emosi.
Putrinya, Shinta.
“Ayah!!”
Dia segera menghampirinya, dan saat mata mereka bertemu, dia langsung menangis. Melihatnya dalam wujud jiwanya terlalu berat baginya.
“Ayah… Apa yang mereka lakukan padamu? Mengapa kau seperti ini? Maafkan aku, Ayah… mereka tidak mengizinkanku menemuimu…” suaranya bergetar karena takut dan bingung.
Hati Emery mencekam saat melihat putrinya, tetapi ada juga rasa lega. Dia masih hidup. Tidak hanya hidup, tetapi dia juga telah mencapai alam Magus. Tidak ada jejak Khaos di dalam dirinya—tetapi dia tidak terlalu mempedulikannya. Dia aman, dan itulah yang terpenting saat itu.
Kaelyn berbicara lagi, suaranya tenang dan mantap. “Anda bisa lihat putri Anda baik-baik saja. Kalian berdua bisa bicara nanti. Untuk sekarang, Ibu Pertiwi ingin bertemu dengan kalian.”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kaelyn dan Penjaga Matahari membawa Emery lebih dalam ke jantung desa. Mereka bergerak menuju sebuah bangunan yang tampak berdenyut dengan energi, menarik Emery semakin dekat di setiap langkahnya. Saat ia mendekati kuil suci itu, ia merasakan sensasi yang menakjubkan, energi alam membanjiri indranya.
Di sana, di hadapannya, berdiri pohon keramat—makhluk purba yang menjulang tinggi, yang esensinya menyatu dengan tanah. Sosok perempuan muncul dari batang pohon, tubuhnya terjalin sempurna ke dalam pohon itu sendiri. Sulur-sulur melilit anggota tubuhnya seperti pembuluh darah hidup, dan rambutnya menyatu dengan dedaunan, kehadirannya abadi seperti bumi.
“Ibu Pertiwi, ini dia… Dia ada di sini,” Kaelyn berbicara lembut, suaranya penuh kekaguman.
Mata Ibu Pertiwi terbuka, dan ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Emery, seolah-olah dia melihat langsung menembus Emery, ke dalam jiwanya. Senyum terukir di wajahnya yang tenang.
“Selamat Datang di rumah…”