Saya mengaktifkan [Psynapse Boost].
Dalam sekejap, Esensi melonjak dari inti dadaku dan menyerbu ke dalam kepalaku. Pikiranku menajam, indraku menjadi lebih jernih, dan dunia di sekitarku terasa melambat. Tekadku tumbuh lebih kuat, terfokus, tepat, dan siap.
Lalu, aku mengalihkan perhatianku ke gelembung air yang mengelilingiku. Gelembung itu satu-satunya perisaiku melawan tekanan luar biasa di luar sana, tekanan yang bukan hanya disebabkan oleh kedalaman air, tetapi juga oleh pusaran angin dan elemen-elemen angkasa yang bertabrakan hebat.
Dengan hati-hati, saya mulai mengecilkan gelembung itu.
Aku bergerak perlahan, mantap, menjaga fokusku agar tidak runtuh.
Jika pecah, tekanannya akan menghancurkanku dalam hitungan detik. Energi ruangnya saja bisa merobek tubuhku. Tapi aku percaya pada kendaliku.
Gelembung itu menyusut, inci demi inci, semakin dekat ke tubuhku. Tak lama kemudian, gelembung itu hanya berjarak satu kaki dariku di semua sisi. Tekanan di luar semakin kuat, tetapi aku tak berhenti.
Aku mendorong penghalang itu lebih dalam lagi, membiarkannya menutup hingga hampir menyentuh kulitku. Aku bisa merasakan kekuatan penghancur yang menekanku sekarang. Otot-ototku menegang, napasku melambat.
Lapisan tebal Esensi yang membentuk gelembung mulai beriak karena tekanan, seperti lembaran tipis cairan yang bergetar melawan badai.
Namun hal itu bertahan.
Itu bertahan dengan kuat.
Akhirnya, saya mulai membungkus tubuh saya dengan film Essence, satu bagian pada satu waktu.
Aku mulai dari punggungku, membiarkan penghalang itu perlahan menekan kulitku. Sentakan tajam menjalar di tulang punggungku saat tekanan itu mengenaiku, tetapi aku mengertakkan gigi dan terus maju.
Film itu kemudian membentang di atas bahu saya, lalu perlahan-lahan bergerak ke dada saya. Rasanya seperti terbungkus sesuatu yang dingin dan berat, namun sekaligus membakar energi yang membara.
Aku menarik napas perlahan dan hati-hati saat film itu terus menyebar, turun ke lenganku, menutupi siku dan pergelangan tanganku, lalu telapak tangan dan jari-jariku.
Setiap inci yang disentuhnya terasa lebih berat, seperti saya tenggelam dalam selimut berbobot yang terbuat dari energi dan tekanan.
Selanjutnya, saya pindah ke tubuh bagian bawah: paha, lutut, betis, dan terakhir kaki. Film itu memeluk erat, menempel di kulit saya, tetapi tidak menusuknya. Belum.
Aku menundukkan kepala, masih terlindungi dan tak tersentuh film.
Lapisan tipis itu perlahan membungkus tubuhku bagai kulit kedua, halus dan berkilau. Aku duduk bersila, telanjang, dan fokus. Air di sekitarku menderu dalam diam, menekan dari segala arah.
Namun di dalam film, suasananya tenang.
Saya mulai dengan lengan bawah kanan saya.
Lapisan film menebal di sana, tepat di sekitar lengan, dan mengencang sedikit demi sedikit. Awalnya, terasa berat. Lalu, rasa sakitnya mulai terasa.
Tekanan yang perlahan merayap dan menusuk jauh ke dalam. Aku bisa merasakan otot-ototku berkedut. Tubuhku berusaha melawannya, mencoba melawan. Tapi aku tak menyerah.
Saya menjaga tekanannya tetap stabil.
Menit demi menit berlalu. Rasa sakitnya semakin menjadi. Darah mengucur deras. Lenganku mulai terasa lemas, lelah, seolah tak mampu lagi mempertahankan bentuknya. Itulah isyaratku.
Saya mengaktifkan [Pembentukan Esensi].
Tekadku menajam. Esensi mengalir melalui diriku bagai benang hidup. Aku mengumpulkannya menjadi garis tipis, tajam dan terkendali, lalu menyalurkannya ke lengan bawahku.
Itu menyentuh permukaan tulang.
Tulangnya masih kuat, tapi tekanannya sudah berfungsi. Retakan-retakan kecil. Cukup.
Saya mendorong benang itu masuk.
Sedikit demi sedikit, aku mengukir. Napasku melambat. Detak jantungku bergema di telingaku. Aku menggambar garis panjang dari pergelangan tangan hingga siku, lalu membuat jalur-jalur kecil yang bercabang.
Itu bukan kebetulan, aku mengikuti penglihatan itu. Pola yang sama yang diukir oleh pria abu-abu itu. Aku menghafalnya untuk ini.
Begitu saluran pertama selesai, saya merasakan perubahan. Esensi mengalir melaluinya. Tidak banyak, tapi terasa bergerak. Itu sudah cukup.
Aku sudah move on.
Berikutnya lengan bawah kiri.
Langkah yang sama. Kencangkan. Tunggu. Hancurkan. Tahan. Ukir.
Rasa sakitnya kali ini lebih buruk karena saya sudah tahu apa yang diharapkan.
Itu bukan lagi kejutan, itu kenangan.
Saat kedua lengan selesai, aku gemetar. Jari-jariku tak bisa bergerak dengan baik. Tapi aku tersenyum.
Ini adalah kemajuan.
Selanjutnya aku melilitkan film di kakiku. Betis dulu, lalu paha. Tekanan menyebar perlahan, hati-hati, seperti predator yang menunggu untuk menyerang. Otot-ototku terasa terbakar. Lututku terasa seperti akan patah.
Aku biarkan mereka.
Retakan terbentuk jauh di dalam. Esensinya sudah siap.
Aku membentuknya lagi, memasukkan benangnya, dan mengukirnya. Jalur-jalur panjang yang membentang dari kakiku, melewati pahaku, hingga ke punggung bawahku. Setiap jalur mengikuti cetak biru itu.
Rasa sakit itu kini menjadi gelombang yang konstan, tetapi saya menerimanya.
Itu berarti saya melakukan sesuatu yang nyata.
Saya istirahat sebentar hanya untuk mengisi ulang Essence saya.
Lapisan film yang menyelimuti tubuhku tak hanya meremasku. Ia juga menarik energi dari sekeliling, memberi makan Inti Generator. Jantungku. Berdetak pelan dan kuat, setiap denyut memancarkan setitik Esensi.
Aku memadatkan gumpalan-gumpalan itu menggunakan [Essence Shaping] menjadi bola-bola dan menyimpannya di sekitar inti, membiarkannya melayang seperti satelit. Setiap bola berisi lebih dari cukup untuk bagian selanjutnya.
Berikutnya dada dan punggung saya.
Tekanan itu melilit tubuhku seperti sangkar. Aku menjaganya tetap ringan di dekat paru-paru dan jantung. Cukup untuk membuat semuanya terasa lembut.
Lebih keras lagi, aku akan berisiko cedera internal. Aku tidak berusaha mati di sini.
Kali ini aku menunggu lebih lama. Biarkan otot-ototku lelah.
Lalu saya mulai mengukir lagi.
Esensi kini terbagi menjadi dua benang. Satu untuk dada, satu untuk punggung. Keduanya bergerak perlahan, memotong garis-garis kecil, membangun jaring jalur yang mengikuti bentuk yang sama dengan penglihatan aslinya.
Rasanya seperti saya menggambar dengan api di atas batu.
Ketika selesai, saya beristirahat selama satu menit penuh, bernapas perlahan.
Hanya kepalanya yang tersisa.
Saya tidak menggunakan film itu di sana. Terlalu berisiko.
Sebaliknya, aku mencondongkan tubuh ke depan dan memfokuskan segalanya pada kehendakku. Tanpa goncangan. Tanpa gangguan. Aku mengumpulkan sisa Esensiku, membentuknya menjadi benang tertipis, dan menyalurkannya ke leherku, lalu ke atas.
Saluran tunggal itu dimulai dari dasar tengkorak dan naik lurus, melilit kepala saya seperti mahkota.
Saya tidak terlalu dalam. Ini untuk kontrol, bukan kekuasaan.
Proses mengukirnya memakan waktu lebih lama dari yang kukira. Psynapse-ku sekarang menyala, bekerja dengan kekuatan penuh.
Tapi saya menyelesaikannya.
Keyakinan saya berasal dari kemampuan pasif saya: Kerangka Adaptif. Itulah satu-satunya alasan saya yakin tubuh saya mampu bertahan.
Dan karena saya menggunakan Esensi ungu yang diciptakan oleh Generator saya, setiap benang yang saya ukir bukan hanya energi, tetapi juga membawa kemauan saya.
Saya memiliki satu pemikiran jernih di benak saya saat melakukan ini: saluran-saluran ini dimaksudkan untuk membiarkan Esensi mengalir bebas melalui tubuh saya.
Ide itu harus diukir sedalam garis-garis itu sendiri.
Aku menelusuri saluran-saluran yang telah kubuat, mengamati tiap-tiap saluran dengan indraku.
Tidak ada satu bagian pun yang tidak terasa sakit atau perih.
Darah mengucur dari mana-mana, dan kulitku terasa robek dan lemas. Otot-ototku, yang sudah terbebani tekanan, kini meninggalkan bekas-bekas perbuatanku.
Namun saya tidak berhenti.
Sekalipun tubuhku makin melemah karena kehilangan banyak darah, sekalipun seluruh tubuhku menjerit minta istirahat, aku tetap memejamkan mata dan fokus.
Saya memulai prosesnya lagi.
Kali ini saya tidak membuat saluran baru, saya kembali ke saluran lama.
Aku mengukirnya sekali lagi, menggunakan sedikit lebih banyak tekanan dan sedikit lebih banyak Essence.
Saya ingin memperlebar jalurnya, secukupnya agar alirannya lebih lancar. Secukupnya agar jalurnya tidak runtuh karena tekanan nantinya.
Esensi yang kugunakan sekarang lebih pekat daripada sebelumnya. Bersinar lebih terang, lebih tajam. Setiap helainya terasa lebih berat.
Saya membimbing mereka melalui setiap saluran yang telah saya buat.
Dari lengan, ke kaki, melintasi dada, dan ke punggungku.
Saya juga memastikan untuk memperkuat garis-garis di leher dan ubun-ubun kepala saya. Setiap jalur dipotong sedikit lebih dalam, setiap tepinya dihaluskan dan dibentuk dengan hati-hati.
Rasanya sakit lagi. Tapi rasa sakit itu kini hanyalah bagian dari prosesnya.
Saat aku selesai, aku gemetar lagi. Napasku tersengal-sengal, lelah. Tapi di suatu tempat, di balik rasa sakit dan kelelahan itu, aku bisa merasakannya.